DPR Kritik Anggaran Kopdes Merah Putih Rp1,6 M, Terlalu Mewah dan Tak Menjawab Kebutuhan Desa

Minggu, 10 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Aimah Nurul Anam saat mengikuti dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara di ruang rapat Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (18/11/2025) (Dok.istimewa)

Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Aimah Nurul Anam saat mengikuti dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara di ruang rapat Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (18/11/2025) (Dok.istimewa)

Flobamor.com, JakartaAnggota Komisi VI DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Mufti Aimah Nurul Anam, menyoroti besarnya anggaran pembangunan gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dengan anggaran mencapai Rp1,6 miliar per unit yang dinilainya terlalu mewah untuk skala desa dan berpotensi menimbulkan pemborosan serta rawan penyimpangan anggaran.

“Saya melihat dan mengamati konsep total ruang yang dibuat. Bagi saya ini pemborosan biaya. Rp1,6 miliar untuk target penyimpanan dan tempat penjualan di desa itu memang bagus, tetapi terlalu mewah untuk level desa, apalagi bentuk usahanya adalah koperasi,” kata Mufti dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Menurut Mufti, konsep koperasi desa seharusnya mengedepankan prinsip kesederhanaan, efisiensi, dan kebermanfaatan langsung bagi masyarakat, bukan justru menonjolkan kemegahan bangunan. Ia menilai besarnya anggaran tidak otomatis menjamin efektivitas koperasi dalam menggerakkan ekonomi desa.

BACA JUGA:  Diperiksa Kejati NTT, Advokat Fransisco Bessi Serahkan Bukti Dugaan Aliran Uang ke Oknum Jaksa

“Pembangunan koperasi seharusnya mengedepankan fungsi dan efisiensi, bukan kemegahan fisik bangunan. Apalagi, koperasi desa ditujukan untuk memperkuat ekonomi masyarakat di level akar rumput,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Mufti juga menyoroti desain ruangan yang dinilai belum menjawab kebutuhan utama di Desa, khususnya dalam penyimpanan hasil pangan. Ia mengingatkan bahwa produk pangan memiliki daya tahan terbatas dan memerlukan penanganan khusus.

“Kalau bicara hasil pangan, dua hari saja sudah bisa membusuk. Dengan konsep seperti ini, jangan sampai sehari saja sudah rusak karena tidak didukung fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa proyek dengan nilai anggaran besar berpotensi menimbulkan masalah baru apabila tidak diawasi secara ketat sejak perencanaan hingga pelaksanaan.

“Kalau anggaran terlalu besar dan desainnya tidak efisien, ini rawan diselewengkan. Pengawasan harus diperketat,” ungkap Mufti.

BACA JUGA:  LPPDM NTT Desak Menteri Pertanian Copot Kepala Bulog Ruteng, Diduga Salurkan Beras Bantuan Tak Layak Konsumsi

Selain itu, Mufti mengungkapkan adanya perbedaan realisasi anggaran pembangunan gedung Kopdes Merah Putih di sejumlah daerah. Berdasarkan temuan di lapangan, beberapa wilayah hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp600 juta hingga Rp900 juta untuk membangun gedung koperasi.

“Ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak semua daerah membutuhkan anggaran Rp1,6 miliar. Artinya, masih sangat mungkin dilakukan efisiensi,” ujarnya.

Mufti mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar anggaran dan desain gedung Kopdes Merah Putih agar benar-benar selaras dengan kebutuhan riil masyarakat desa.

“Prinsip koperasi itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jangan sampai semangat koperasi justru tergerus oleh bangunan yang terlalu megah tapi tidak fungsional,” tegas Mufti.

Lebih lanjut, Mufti mengusulkan agar anggaran pembangunan dipangkas menjadi lebih rasional, dengan fokus pada efisiensi dan hasil maksimal.

“Daripada Rp1,6 miliar, lebih baik Rp500 juta saja. Dengan konsep minimalis, targetnya justru bisa lebih tercapai dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Kurangi Angka Pengangguran, Pemda Mabar Restui Kehadiran Indomaret di Labuan Bajo

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan bahwa program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah berjalan pada tahun ini. Ia menyebut, sekitar 80 ribu koperasi telah terbentuk di seluruh Indonesia.

“Pembentukan koperasi desa dan kelurahan Merah Putih telah dimulai tahun ini. 80 ribu koperasi telah dibentuk,” ujar Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (15/8/2025).

Ia juga menegaskan bahwa setiap koperasi ditargetkan memiliki fasilitas gudang lengkap dengan cold storage pada akhir 2025 guna mendukung penyimpanan hasil produksi masyarakat.

Kendati demikian, program Kopdes Merah Putih menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa. Namun, kritik dari DPR menandakan perlunya evaluasi agar pembangunan yang dilakukan benar-benar efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Penulis: Redaksi 

Editor: Tim Redaksi Flobamor.com

Penulis : Deni

Editor : Tim Redaksi Flobamor.com

Berita Terkait

Kasus Dugaan Pemerasan Jaksa di NTT Terus Bergulir, Kontraktor Ngaku Tak Sanggup Lagi Dijadikan ATM
Program MBG Diperluas ke Lapas, 36 Dapur Ditargetkan Beroperasi Akhir Mei 2026
Kemendagri Pastikan 9.000 PPPK di NTT Tak Dirumahkan pada 2027
Usai Diperiksa KPK soal Dugaan Suap Impor, Pegawai Bea Cukai Ahmad Dedi Kabur Hindari Wartawan
Usut Dugaan Korupsi, Kejari TTU Geledah Kantor PDAM Tirta Cendana
Diduga Salah Tangkap, Tim Polda NTT Amankan Gula Halus yang Dikira Sabu
Bupati Edi Endi  Lantik 15 Pejabat Eselon II, Tekankan Persatuan dan Percepatan Digitalisasi Birokrasi
Diperiksa Kejati NTT, Advokat Fransisco Bessi Serahkan Bukti Dugaan Aliran Uang ke Oknum Jaksa

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:04 WITA

Kasus Dugaan Pemerasan Jaksa di NTT Terus Bergulir, Kontraktor Ngaku Tak Sanggup Lagi Dijadikan ATM

Senin, 11 Mei 2026 - 00:53 WITA

Program MBG Diperluas ke Lapas, 36 Dapur Ditargetkan Beroperasi Akhir Mei 2026

Minggu, 10 Mei 2026 - 23:14 WITA

DPR Kritik Anggaran Kopdes Merah Putih Rp1,6 M, Terlalu Mewah dan Tak Menjawab Kebutuhan Desa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:19 WITA

Kemendagri Pastikan 9.000 PPPK di NTT Tak Dirumahkan pada 2027

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:16 WITA

Usai Diperiksa KPK soal Dugaan Suap Impor, Pegawai Bea Cukai Ahmad Dedi Kabur Hindari Wartawan

Berita Terbaru

Musrenbang Pemprov NTT di Kupang, Sabtu (9/5/2026) (Dok.istimewa)

BERITA TERKINI

Kemendagri Pastikan 9.000 PPPK di NTT Tak Dirumahkan pada 2027

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:19 WITA

error: Content is protected !!