Flobamor.com– Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M)7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, tidak hanya meninggalkan kepanikan, tetapi juga kerusakan rumah dan rasa cemas yang masih membayangi warga.
Guncangan gempa yang terjadi sekitar pukul 05.58 WITA tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer di sebelah timur Mbay, Kabupaten Nagekeo. Getarannya dirasakan kuat di sejumlah wilayah Pulau Flores.
Warga yang sedang beraktivitas maupun berada di dalam rumah sontak berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Namun, setelah guncangan berhenti, persoalan baru muncul. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan dan sebagian di antaranya tidak lagi aman untuk ditempati.
145 Rumah Rusak, 33 di Antaranya Rusak Berat
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Wae Bangka, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hasil pendataan Pemerintah Desa Wae Bangka sejak Sabtu (15/8/2026) hingga Minggu (16/8/2026) terdapat 145 rumah mengalami kerusakan.
Kepala Desa Wae Bangka, Hironimus Tarsisius Sejati, merinci sebanyak 112 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara 33 rumah lainnya mengalami kerusakan berat.
“Terdata rinciannya, rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang berjumlah 112 unit, sedangkan yang rusak berat ada 33 rumah,” kata Kades Tarsi.

Kerusakan terlihat pada sejumlah bagian rumah, mulai dari dinding yang retak hingga plafon yang terlepas. Sementara beberapa bangunan mengalami kerusakan lebih berat sehingga warga memilih tidak lagi menghuninya.
Rumah Tak Lagi Aman, Warga Terpaksa Tidur di Tenda Darurat.
Ketakutan terhadap kemungkinan gempa susulan membuat warga mengambil langkah aman. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat di samping rumah masing-masing. Hingga Minggu malam, warga masih bertahan di tenda darurat dan tidur beralaskan tikar dengan fasilitas seadanya.
Tenda yang biasanya hanya digunakan dalam kondisi darurat, kini menjadi tempat warga berkumpul bersama keluarga.
Rasa takut akan kondisi bangunan dan ancaman gempa susulan membuat mereka memilih bertahan di luar, meski harus tidur seadanya di bawah tenda darurat.
Di tengah kondisi tersebut, warga juga masih menantikan bantuan kebutuhan dasar.
Kepala Desa Wae Bangka mengungkapkan hingga Minggu malam belum ada bantuan cepat berupa sembako dari pemerintah pusat yang diterima masyarakat terdampak.
“Sampai saat ini, belum ada respon cepat berupa bantuan sembako dari pemerintah pusat,” ungkap Tarsi.
Pemerintah desa berharap bantuan segera disalurkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan warga yang terpaksa tinggal di tenda darurat.
Selain bantuan logistik, pemerintah desa juga diminta memberikan dana stimulan untuk memperbaiki rumah warga yang rusak akibat gempa.
Di tengah kepanikan pascagempa, Kades
Hironimus mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya informasi hoaks maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Warga diminta terus mengikuti perkembangan melalui kanal resmi pemerintah, khususnya BMKG dan lembaga berwenang lainnya.
Bagi warga yang rumahnya sudah dinyatakan tidak layak huni, pemerintah desa meminta agar tetap bertahan di tenda darurat dan tidak memaksakan diri kembali ke dalam rumah.
Warga berharap pendataan kerusakan segera ditindaklanjuti dengan bantuan nyata. Bukan hanya sembako untuk bertahan hidup, tetapi juga dukungan untuk memperbaiki rumah agar mereka dapat kembali hidup dengan aman. Untuk sementara, tenda darurat menjadi rumah kedua bagi mereka.
Di tengah rasa takut akan gempa susulan, warga desa Wae Bangka hanya bisa bertahan, berjaga, dan menunggu uluran tangan pemerintah.
Penulis : Bonefasius Jatang
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com











