Kupang, Flobamor.com — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan kesiapan penuh dalam menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat. Kekhawatiran akan lonjakan permintaan dan potensi kelangkaan dipastikan tidak perlu terjadi, sebab stok beras di NTT berada dalam kondisi aman, stabil, dan sangat mencukupi.
Kepala Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur (Kanwil NTT), Arrahim K. Kanam, menegaskan bahwa cadangan beras pemerintah secara nasional hingga akhir November mencapai 3,8 juta ton, sementara stok khusus untuk wilayah NTT berada pada posisi kuat dan terjaga.
“Bulog memastikan stok beras untuk kebutuhan Provinsi NTT berada dalam kondisi aman dan sangat mencukupi, bahkan hingga tahun depan. Stok ini siap menghadapi momentum Natal dan Tahun Baru, termasuk Lebaran,” ujar Arrahim kepada Flobamor.com, Selasa (16/12/2025).
Untuk menjaga stabilitas harga di pasar, Bulog mempercepat penyaluran Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hingga awal Desember 2025, realisasi penyaluran SPHP di NTT telah mencapai 29.270 ton, yang didistribusikan melalui pasar tradisional, ritel modern, Koperasi Desa Merah Putih, distributor resmi, serta berbagai mitra Bulog lainnya.
Tak hanya itu, Bulog juga mempercepat penyelesaian penyaluran Bantuan Pangan (Banpang) alokasi Oktober–November yang mengalami peningkatan signifikan, baik dari sisi jumlah penerima maupun jenis bantuan.
Data penerima Bantuan Pangan:
• Juni–Juli 2025: 605.291 Penerima Bantuan Pangan (PBP)
• Oktober–November 2025: 653.746 PBP
Setiap penerima mendapatkan beras 10 kilogram per bulan, ditambah minyak goreng 2 liter.
“PBP yang sebelumnya hanya menerima beras, kini mendapatkan tambahan minyak goreng. Ini tentu memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat,” jelas Arrahim.
Meski NTT bukan daerah sentra produksi pangan, Bulog tetap berkomitmen menyerap hasil petani lokal. Hingga Desember 2025, Bulog Kanwil NTT telah menyerap:
• Gabah setara beras: 6.025 ton
• Jagung: 334 ton
Langkah ini dinilai penting dalam menjaga keseimbangan pasokan sekaligus mendukung petani di tengah fluktuasi produksi daerah.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem pada periode Desember–Januari, Bulog juga memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah, Satgas Pangan, dan seluruh pemangku kepentingan guna mengantisipasi penimbunan beras, spekulasi harga, serta gangguan distribusi akibat badai dan hambatan pelayaran.
“Pengawasan di lapangan menjadi kunci agar stabilitas harga tetap terjaga. Dengan kesiapan stok dan sistem distribusi yang solid, masyarakat tidak perlu khawatir,” tegas Arrahim.
Sebagai langkah antisipasi tambahan, Bulog telah menyiapkan skema penguatan cadangan pangan untuk memastikan distribusi tetap lancar meski menghadapi tantangan logistik pada puncak musim hujan.
Penulis: Redaksi Flobamor.com/ Deni












