Viral! Dua Warga NTT Teken Surat Perjanjian Final Piala Dunia 2026, Tanah dan 18 Ekor Sapi Senilai Rp 215 Juta Jadi Taruhan

Senin, 20 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua Warga Timor Tengah Selatan (TTS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Teken Surat Perjanjian Taruhan Final Piala Dunia 2026, yang mempertemukan Timnas Argentina Versus Timnas Spanyol, Tanah dan 18 Ekor Sapi Senilai Rp 215 Juta Jadi Taruhan (foto: Dok. Flobamor.com)

Dua Warga Timor Tengah Selatan (TTS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Teken Surat Perjanjian Taruhan Final Piala Dunia 2026, yang mempertemukan Timnas Argentina Versus Timnas Spanyol, Tanah dan 18 Ekor Sapi Senilai Rp 215 Juta Jadi Taruhan (foto: Dok. Flobamor.com)

Flobamor.com – Euforia Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina tak hanya menyedot perhatian pencinta sepak bola, tetapi juga melahirkan aksi unik yang kini viral di media sosial.

Selembar Surat Perjanjian Taruhan Final Piala Dunia 2026 bernomor PD/001/VII/26 menjadi perbincangan publik setelah ditandatangani di Desa Noebeba, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Dalam surat tersebut, dua warga sepakat mempertaruhkan aset bernilai fantastis demi membela tim jagoannya di partai puncak Piala Dunia. Yakobus Tefa tampil sebagai pendukung Timnas Spanyol, sementara Marten Misa berdiri teguh mendukung Timnas Argentina.

Yang membuat publik terkejut bukan hanya keberanian kedua pendukung itu, tetapi juga nilai taruhan yang mencapai Rp215 juta.

BACA JUGA:  Gempa M 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Getaran Terasa hingga Labuan Bajo

Berdasarkan isi surat perjanjian, objek taruhan meliputi:

• Sebidang tanah berukuran 20 x 15 meter.

• 18 ekor sapi.

• Total nilai aset yang dipertaruhkan mencapai Rp215.000.000.

Surat tersebut disusun layaknya dokumen resmi. Selain ditandatangani oleh kedua pihak, dokumen itu juga dibubuhi dua materai Rp10.000, stempel Pemerintah Desa Noebeba, dan ditandatangani oleh sejumlah saksi, salah satunya Apris Tefa.

Lebih mengejutkan lagi, surat perjanjian tersebut memuat klausul sanksi yang tidak main-main. Dalam dokumen itu ditegaskan bahwa, apabila salah satu pihak kalah namun tidak memenuhi kewajibannya atau membatalkan taruhan, maka penyelesaiannya akan ditempuh melalui hukum adat dengan denda yang nilainya lebih besar dari objek taruhan. Bahkan, jika persoalan tidak selesai, kasus tersebut dapat dilanjutkan ke kepolisian.

BACA JUGA:  Fokus Pengamanan Eksternal, Polres Manggarai Pastikan Kongres PMKRI Berjalan Aman

Bunyi klausul itu menyatakan:

“Apabila salah satu pihak tidak membayar atau membatalkan pertaruhan yang dimaksud, maka akan berlanjut dengan hukum adat (denda) yang lebih besar daripada nilai taruhan atau berlanjut hingga kepolisian.”

Keberadaan klausul tersebut membuat banyak warganet menilai taruhan ini bukan sekadar candaan antarpendukung sepak bola, tetapi sebuah kesepakatan yang dibuat secara serius.

Tak butuh waktu lama, foto surat perjanjian itu pun menyebar luas di berbagai platform media sosial dan grup percakapan. Beragam komentar pun bermunculan.

Sebagian menganggap aksi itu sebagai bentuk kreativitas dan tingginya antusiasme masyarakat terhadap Final Piala Dunia, sementara yang lain menilai bahwa nilai taruhan tersebut terlalu besar dan berisiko.

BACA JUGA:  Geger! Oknum Kades di Labuan Bajo Diduga Selingkuh dengan Istri Orang, Kabur Saat Digerebek Suami Sah

Beberapa komentar netizen bahkan mengundang tawa, seperti:

“Ini baru taruhan resmi, pakai materai dan stempel desa.”

“18 ekor sapi itu nilainya bukan main, satu kampung bisa ikut pesta.”

“Kalau Spanyol menang, Yakobus dapat peternakan. Kalau Argentina juara, Marten jadi tuan tanah.”

Hingga kini, surat perjanjian tersebut masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Terlepas dari siapa yang nantinya keluar sebagai juara dunia, kisah taruhan tanah dan 18 ekor sapi asal NTT ini sudah lebih dulu mencuri perhatian publik dan menjadi salah satu cerita paling unik yang mengiringi Final Piala Dunia 2026.

Penulis : Deni

Editor : Tim Redaksi Flobamor.com

Berita Terkait

Aset Pemda Mabar Diduga Jadi Ladang Cuan Mantan Kadis Cipta Karya, Jaksa Siap Turun Tangan
Makam Leluhur Digusur demi Resor Mewah Ta’aktana, Ahli Waris Mengaku Tak Pernah Beri Persetujuan
Terungkap! Penginapan Galung di Labuan Bajo Diduga Jadi Lokasi Prostitusi Online, Lima Akun MiChat Teridentifikasi
Niat Atasi Motor Brebet, Usai Servis di Bengkel HI MOTOR Labuan Bajo Malah Makin Parah
Sudah Dua Kali Diperingatkan DKP NTT, Aktivitas Docking Kapal di Labuan Bajo Makin Ramai Beroperasi
Pantai Pede hingga Gorontalo Dijadikan Lokasi Docking Kapal, Legalitas dan Pengawasan Dipertanyakan
Prima Jaya Protes Gol Kontroversil GPSL di Babak Penyisihan Messah Cup III, Wasit Utama Akhirnya Buka Suara
Pelatih Prima Jaya Bongkar kebobrokan Ketua Panitia dan Wasit di Turnamen Messah Cup III

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:33 WITA

Aset Pemda Mabar Diduga Jadi Ladang Cuan Mantan Kadis Cipta Karya, Jaksa Siap Turun Tangan

Senin, 2 November 2026 - 11:38 WITA

Makam Leluhur Digusur demi Resor Mewah Ta’aktana, Ahli Waris Mengaku Tak Pernah Beri Persetujuan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:07 WITA

Terungkap! Penginapan Galung di Labuan Bajo Diduga Jadi Lokasi Prostitusi Online, Lima Akun MiChat Teridentifikasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:06 WITA

Niat Atasi Motor Brebet, Usai Servis di Bengkel HI MOTOR Labuan Bajo Malah Makin Parah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:42 WITA

Sudah Dua Kali Diperingatkan DKP NTT, Aktivitas Docking Kapal di Labuan Bajo Makin Ramai Beroperasi

Berita Terbaru

error: Content is protected !!