Flobamor.com – Potensi bambu lokal Nusa Tenggara Timur kembali membuktikan kualitasnya di panggung internasional. Sebanyak 15 ribu batang bambu asal Kabupaten Manggarai Barat resmi diekspor ke Polandia untuk digunakan sebagai material pembangunan rumah berkonsep khas NTT.
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa komoditas lokal tidak lagi hanya bernilai sebagai bahan bangunan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi produk ekspor bernilai ekonomi tinggi.
Ekspor tersebut dilakukan oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), lembaga yang selama ini aktif mengembangkan industri bambu berkelanjutan di Labuan Bajo. Capaian ini sekaligus membuka harapan baru bagi para petani bambu, pelaku UMKM, dan masyarakat desa di Manggarai Barat agar mampu menikmati manfaat ekonomi dari kekayaan alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Keberhasilan YBLL mendapat apresiasi langsung dari Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, saat melakukan kunjungan kerja ke Rumah Bambu YBLL di Labuan Bajo pada Selasa, 21 Juli 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Johni meninjau seluruh tahapan produksi, mulai dari proses pengawetan, pengeringan, hingga pengolahan bambu menjadi material bangunan berkualitas ekspor.
Ia juga berdialog dengan pengelola mengenai perkembangan industri bambu yang kini tumbuh menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang memiliki prospek besar di pasar global.
Project Officer YBLL, Septiani Solfriyansi Maro, menjelaskan bahwa seluruh bambu yang diekspor berasal dari desa-desa di Kabupaten Manggarai Barat. Setelah dipanen, bambu menjalani proses pengawetan di fasilitas YBLL sebelum dikirim ke Bali untuk menjalani proses karantina sesuai standar ekspor internasional.
Setelah seluruh persyaratan dipenuhi, bambu kemudian diberangkatkan menuju Polandia.
Menurut Septiani, kualitas menjadi faktor utama yang membuat bambu Manggarai Barat mampu bersaing di pasar internasional.
Karena itu, pihaknya terus menjaga standar produksi agar produk bambu lokal semakin dipercaya oleh pembeli dari berbagai negara.
“Kami berharap promosi bambu asal Manggarai Barat terus ditingkatkan dengan tetap menjaga kualitas produk. Dengan demikian, pasar ekspor akan semakin luas dan manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat,” ujarnya.
Dalam proses produksinya, bambu melalui tahapan pengeringan dan pengawetan menggunakan teknik khusus sehingga memiliki daya tahan yang jauh lebih lama. Tiang bambu dapat bertahan hingga 10 tahun dengan perawatan rutin, sedangkan atap bambu atau pelupuh mampu digunakan sekitar lima tahun, menjadikannya material ramah lingkungan sekaligus ekonomis.
Sementara itu, Wakil Gubernur Johni Asadoma mengaku bangga melihat kreativitas generasi muda yang mampu mengubah sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Menurutnya, keberhasilan ekspor ini menjadi bukti bahwa NTT memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional apabila didukung inovasi, kualitas, dan kolaborasi yang baik.
“Ini adalah kebanggaan bagi NTT. Bambu yang selama ini dianggap sebagai material sederhana ternyata mampu menjadi produk ekspor yang diminati dunia. Potensi seperti ini harus terus dikembangkan agar menjadi identitas baru NTT sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Septiani menegaskan bahwa ekspor 15 ribu batang bambu ke Polandia menjadi sinyal kuat bahwa produk lokal Manggarai Barat telah berhasil menembus pasar global. Keberhasilan ini diharapkan menjadi awal terbukanya peluang ekspor ke berbagai negara lainnya sekaligus mengangkat nama NTT sebagai salah satu daerah penghasil produk bambu berkualitas dunia.
Penulis : Deni
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












