Ruteng, Flobamor.com –Dari kebun jagung hingga kandang ayam, Orang Muda Katolik (OMK) Pax Christi di Mbau Muku, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai membangun pola usaha pertanian dan peternakan yang saling terhubung.
Melalui konsep circular farming, kelompok anak muda ini mengembangkan kebun jagung, tanaman hortikultura, dan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dalam satu siklus usaha.
Bukan sekedar bertani dan beternak, mereka mulai mengubah cara pandang terhadap hasil samping dan limbah produksi. Feses ayam diolah menjadi bokashi untuk pupuk organik, sementara hasil pertanian berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan ternak.
Pola tersebut diharapkan mampu mengurangi pemborosan sumber daya sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi bagi kaum muda di Mbau Muku.
Pengembangan usaha ini mendapat pendampingan dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Tim tersebut diketuai drh. Elisabeth Yulia Nugraha, S.KH., M.Si., bersama Nautus Stivano Dalle, S.Pt., M.Pt., dan Dr. Hilarius Yosef Sikone, S.Pt., M.P., serta mahasiswa Anna Maria Anjanita Farini dan Bonifasius Le’u.
Drh. Yulia menjelaskan, kegiatan pendampingan tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui anggaran tahun 2026.
Dalam praktiknya, anggota OMK Pax Christi tidak lagi melihat kebun dan kandang sebagai dua usaha yang berjalan sendiri-sendiri.
Jagung dan berbagai tanaman hortikultura dikembangkan di lahan pertanian, sementara ayam KUB dipelihara di kandang. Hasil samping dari masing-masing kegiatan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya.
Tim PkM memberikan pendampingan mulai dari peningkatan mutu bibit, pengaturan produksi, hingga mengenali dan memilih telur yang berpotensi menghasilkan bibit ayam.

Anggota kelompok juga dibekali keterampilan mengolah feses ayam menjadi bokashi yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman.
“Pola ini membuat kebun dan kandang saling menunjang,” jelas Yulia.
Dengan pola tersebut, kegiatan pertanian dan peternakan tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun sebuah siklus produksi yang berupaya memanfaatkan sumber daya secara maksimal.
Salah satu bagian penting dari konsep yang dikembangkan OMK Pax Christi adalah pemanfaatan limbah ternak.
Feses ayam yang sebelumnya dipandang sebagai sisa kegiatan produksi, kini diolah menjadi bokashi. Pupuk organik tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman di kebun.
Sebaliknya, hasil pertanian seperti jagung dan produk hortikultura juga memiliki potensi untuk mendukung kebutuhan peternakan.
“Dengan cara itu, kelompok dapat memanfaatkan kembali sumber daya yang tersedia, mengurangi pemborosan, dan menekan ketergantungan pada input dari luar,” kata Yulia.
Menurutnya, pola tersebut sekaligus mengajarkan anggota bahwa limbah tidak selalu harus berakhir sebagai buangan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi dan memiliki nilai manfaat maupun ekonomi.
Tak hanya produksi, tata kelola juga diperkuat. Kendati demikian, Pendampingan Tim PkM Unika Santu Paulus Ruteng tidak berhenti pada aspek teknis pertanian dan peternakan.
OMK Pax Christi juga mulai didorong membangun tata kelola usaha yang lebih tertib, termasuk mencatat produksi dan keuangan, menyusun standar operasional prosedur (SOP), serta melakukan evaluasi secara berkala.

Pencatatan tersebut penting agar kelompok dapat mengetahui biaya produksi, hasil usaha, serta menentukan langkah pengembangan berikutnya.
Aspek identitas produk, pengemasan, promosi, pemanfaatan media digital hingga perluasan jaringan pemasaran juga mulai mendapat perhatian.
Yulia menilai pemasaran perlu dipersiapkan sejak awal agar peningkatan produksi berjalan beriringan dengan kemampuan kelompok menjangkau konsumen.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya bagaimana kelompok mampu menghasilkan produk, tetapi bagaimana produk tersebut memiliki nilai tambah,” ujar Yulia, yang juga Sekretaris Wakil Rektor III Unika Ruteng.
Konsep zero waste bahkan dapat dikembangkan menjadi identitas produk OMK Pax Christi. Konsumen tidak hanya membeli hasil kebun atau peternakan, tetapi juga dapat melihat proses produksi yang memanfaatkan kembali limbah dan sumber daya lokal.
Bagi anggota OMK Pax Christi, program tersebut memberikan pengalaman baru dalam melihat potensi ekonomi di lingkungan mereka sendiri.
Ketua OMK Pax Christi, Rio, mengatakan sebelum mendapat pendampingan, kegiatan kebun dan kandang masih berjalan secara terpisah.

Kini, kelompok mulai memahami bahwa kedua kegiatan tersebut dapat dihubungkan dalam satu pola usaha.
“Selama ini kami jalan sendiri-sendiri antara kebun dan kandang. Sekarang kami mulai belajar bagaimana limbah dari satu sisi bisa menjadi manfaat untuk sisi lainnya. Dari kotoran ayam misalnya, kami belajar mengolahnya menjadi pupuk untuk mendukung kegiatan di kebun,” ujar Rio.
Pendampingan tersebut perlahan mendorong OMK Pax Christi membangun keterampilan yang lebih lengkap, mulai dari produksi, pengelolaan usaha, hingga pemasaran.
Harapannya, kebun dan kandang yang mereka kelola tidak hanya menjadi aktivitas kelompok, tetapi berkembang menjadi usaha yang mampu meningkatkan pendapatan dan membuka ruang kemandirian ekonomi bagi anak-anak muda di Mbau Muku.
Penulis : Selvianus Hadun
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












