Ruteng, Flobamor.com — Menjelang prosesi pengukuhan akademik, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng menggelar Seminar dan Orasi Ilmiah Pra-Wisuda di Aula Santa Maria Asumpta Katedral Ruteng, Kamis (4/12). Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WITA ini menjadi agenda wajib bagi 1.304 calon wisudawan sebelum mengikuti resepsi wisuda pada Sabtu (6/12).
Acara diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan doa pembuka. Suasana aula tampak khidmat namun penuh antusiasme para peserta yang bersiap memasuki babak baru dalam kehidupan profesional.
Pada sesi pertama, Wakil Rektor I, Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus membuka rangkaian seminar. Dalam paparannya, ia menyoroti fenomena era post-truth, di mana emosi dan opini personal sering kali lebih dipercaya dibandingkan data dan bukti ilmiah, apalagi ditopang oleh masifnya penggunaan kecerdasan buatan dan media sosial.
“Ketertarikan terhadap media konvensional semakin merosot. Media sosial kini menjadi sumber informasi utama, namun seringkali tanpa verifikasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa para lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dalam menyikapi kondisi tersebut.
“Kita punya dua pilihan, menjadi bagian dari masalah dengan menyebarkan informasi dangkal dan manipulatif, atau menjadi bagian dari solusi dengan membangun nalar kritis,” tegasnya.
Dr. Marselus juga memberikan apresiasi kepada para pemateri yaitu Dr. Hendrikus Midun, Dr. Ferdinand Hidiearto, dan Dr. Antonius Nesi yang mengambil bagian dalam forum akademik ini.
Mengawali sesi orasi ilmiah, Dr. Antonius Nesi, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, membawakan materi dengan mengusung tema “Membangun Daya Kritis, Inovatif dan Adaptif Gen Z Menghadapi Era Post-Truth.”
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa era post-truth membawa tantangan serius terhadap integritas ilmu pengetahuan, keputusan publik, hingga profesionalisme kerja.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi harus membangun kapasitas berpikir kritis, reflektif, dan adaptif untuk menghadapi manipulasi informasi yang semakin kompleks.
Beberapa poin penting yang ditekankan Dr. Antonius, antara lain:
• Penguatan literasi media dan literasi kritis
• Pengembangan inovasi sosial berbasis data
• Implementasi Outcome-Based Education (OBE) untuk membentuk lulusan yang relevan dengan tantangan zaman
Materi sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ferdinand Hidiearto yang membawa pesan inspiratif bagi seluruh peserta. Ia mengibaratkan kaum intelektual sebagai “lilin” yang harus menerangi ruang gelap informasi yang penuh hoaks, manipulasi, dan bias opini.
“Kita tidak perlu menjadi matahari untuk menerangi dunia. Cukup menjadi lilin — tetapi lilin yang tidak padam, yang setia menjaga kebenaran,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa seorang sarjana bukan hanya dituntut menguasai pengetahuan, tetapi juga menjaga etika, integritas, dan kebermanfaatan sosial.
Kegiatan seminar dan orasi ilmiah pra-wisuda ini menjadi ruang refleksi akhir bagi para wisudawan sebelum memasuki dunia kerja dan pengabdian masyarakat.
Dengan tema besar era post-truth, para narasumber mengingatkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus disertai karakter, integritas, dan kemampuan berpikir kritis.
Universitas berharap pembekalan ini dapat memperkuat peran lulusan sebagai agen perubahan yang membawa cahaya di tengah arus informasi yang semakin kompleks.












