Flobamor com- Mahasiswa kerap dipandang sebagai generasi intelektual dan harapan masa depan bangsa. Namun di balik citra tersebut, tersimpan realitas yang sering luput dari perhatian: tekanan mental yang semakin nyata di kalangan mahasiswa.
Tugas kuliah yang menumpuk, target indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi, aktivitas organisasi, hingga tuntutan memiliki berbagai keterampilan tambahan menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa saat ini. Dalam situasi tersebut, prestasi sering dijadikan standar utama keberhasilan, sementara kesehatan mental kerap terabaikan.
Tekanan akademik menjadi salah satu faktor utama yang memicu stres pada mahasiswa. Deadline tugas yang datang bertubi-tubi, jadwal ujian yang padat, serta tuntutan untuk mempertahankan nilai tinggi membuat banyak mahasiswa berada dalam kondisi tertekan.
Tidak sedikit yang harus mengorbankan waktu istirahat demi menyelesaikan tugas.
Begadang hingga larut malam bahkan menjadi kebiasaan yang dianggap wajar, terutama menjelang masa ujian atau pengumpulan tugas besar.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat sekitar 9,8 persen penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional. Kelompok usia tersebut termasuk mahasiswa yang berada dalam fase kehidupan penuh tuntutan dan transisi, sehingga potensi tekanan mental di kalangan mereka tidak bisa dianggap kecil.
Selain tekanan akademik, mahasiswa juga menghadapi tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Media sosial dan kehidupan kampus kerap menampilkan berbagai pencapaian mahasiswa lain, seperti memperoleh beasiswa, memenangkan kompetisi, aktif dalam organisasi, atau meraih prestasi akademik.
Situasi tersebut tanpa disadari dapat memicu perbandingan sosial yang menimbulkan perasaan tertinggal. Rasa takut gagal dan kecemasan akan masa depan pun kerap muncul, membuat sebagian mahasiswa merasa belum cukup berhasil dibandingkan teman sebayanya.
Fenomena ini juga terlihat dalam penelitian internasional. Survei American College Health Association (2022) mencatat lebih dari 70 persen mahasiswa mengalami stres dalam satu tahun terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan mental di kalangan mahasiswa merupakan persoalan global yang tidak bisa dianggap sepele.
Karena itu, isu kesehatan mental mahasiswa perlu mendapat perhatian serius, baik dari mahasiswa itu sendiri maupun dari lingkungan kampus. Kesadaran bahwa beristirahat bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari menjaga keseimbangan hidup, menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan mental.
Selain itu, kemampuan mengatur waktu, menetapkan prioritas, serta keberanian untuk mencari bantuan ketika mengalami tekanan menjadi hal penting yang perlu dimiliki mahasiswa.
Pada akhirnya, prestasi akademik memang penting. Namun, kesehatan mental tidak boleh menjadi korban dari ambisi tersebut. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk berprestasi secara intelektual, tetapi juga mampu menjaga kesejahteraan diri. Tanpa kesehatan mental yang baik, prestasi yang diraih berisiko kehilangan maknanya.
Penulis:
1. Aurelia Ratna Kurniati (PBI)
2. Arsenius Syukur(PBI)
3. lifentinus Sudarso(PBI)
4. Dionisia Juita(PBI)
5. Adrianus Olga Lesing(PBI)
6. Freonaldus Trisno(PBI)
Mahasiswa UNIKA St.Paulus Ruteng
Prodi : Bahasa Inggris












