Antara Prestasi dan Tekanan: Realitas Mental Health Mahasiswa

Jumat, 20 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (foto ist)

Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (foto ist)

Flobamor com- Mahasiswa kerap dipandang sebagai generasi intelektual dan harapan masa depan bangsa. Namun di balik citra tersebut, tersimpan realitas yang sering luput dari perhatian: tekanan mental yang semakin nyata di kalangan mahasiswa.

Tugas kuliah yang menumpuk, target indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi, aktivitas organisasi, hingga tuntutan memiliki berbagai keterampilan tambahan menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa saat ini. Dalam situasi tersebut, prestasi sering dijadikan standar utama keberhasilan, sementara kesehatan mental kerap terabaikan.

Tekanan akademik menjadi salah satu faktor utama yang memicu stres pada mahasiswa. Deadline tugas yang datang bertubi-tubi, jadwal ujian yang padat, serta tuntutan untuk mempertahankan nilai tinggi membuat banyak mahasiswa berada dalam kondisi tertekan.

BACA JUGA:  Wakil Gubernur NTT dan Wakil Bupati Alor Tanggung Biayai Kuliah Adriano, Mahasiswa yang Berani Sampaikan Aspirasi ke Mentan

Tidak sedikit yang harus mengorbankan waktu istirahat demi menyelesaikan tugas.
Begadang hingga larut malam bahkan menjadi kebiasaan yang dianggap wajar, terutama menjelang masa ujian atau pengumpulan tugas besar.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat sekitar 9,8 persen penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional. Kelompok usia tersebut termasuk mahasiswa yang berada dalam fase kehidupan penuh tuntutan dan transisi, sehingga potensi tekanan mental di kalangan mereka tidak bisa dianggap kecil.

Selain tekanan akademik, mahasiswa juga menghadapi tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Media sosial dan kehidupan kampus kerap menampilkan berbagai pencapaian mahasiswa lain, seperti memperoleh beasiswa, memenangkan kompetisi, aktif dalam organisasi, atau meraih prestasi akademik.

BACA JUGA:  SKL Siswa Ditahan, Kadis PPO Manggarai Timur Diduga Konspirasi Dengan Kepsek SDN Bea Lenda

Situasi tersebut tanpa disadari dapat memicu perbandingan sosial yang menimbulkan perasaan tertinggal. Rasa takut gagal dan kecemasan akan masa depan pun kerap muncul, membuat sebagian mahasiswa merasa belum cukup berhasil dibandingkan teman sebayanya.

Fenomena ini juga terlihat dalam penelitian internasional. Survei American College Health Association (2022) mencatat lebih dari 70 persen mahasiswa mengalami stres dalam satu tahun terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan mental di kalangan mahasiswa merupakan persoalan global yang tidak bisa dianggap sepele.

Karena itu, isu kesehatan mental mahasiswa perlu mendapat perhatian serius, baik dari mahasiswa itu sendiri maupun dari lingkungan kampus. Kesadaran bahwa beristirahat bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari menjaga keseimbangan hidup, menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan mental.

BACA JUGA:  Camat Lamba Leda Pantau Langsung Kegiatan TKA Siwa SDI Bea Nanga

Selain itu, kemampuan mengatur waktu, menetapkan prioritas, serta keberanian untuk mencari bantuan ketika mengalami tekanan menjadi hal penting yang perlu dimiliki mahasiswa.

Pada akhirnya, prestasi akademik memang penting. Namun, kesehatan mental tidak boleh menjadi korban dari ambisi tersebut. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk berprestasi secara intelektual, tetapi juga mampu menjaga kesejahteraan diri. Tanpa kesehatan mental yang baik, prestasi yang diraih berisiko kehilangan maknanya.

Penulis:

1. Aurelia Ratna Kurniati (PBI)
2. Arsenius Syukur(PBI)
3. lifentinus Sudarso(PBI)
4. Dionisia Juita(PBI)
5. Adrianus Olga Lesing(PBI)
6. Freonaldus Trisno(PBI)

Mahasiswa UNIKA St.Paulus Ruteng 

Prodi : Bahasa Inggris

Berita Terkait

Guru PAUD se-Kecamatan Cibal Barat dan Lelak Dibekali Strategi Kurikulum Berbasis Deep Learning
Terungkap 6 Kesenjangan Pendidikan Anak di Manggarai, Plan dan UNIKA Dorong Model PAUD–SD Terintegrasi
Cegah Korupsi, Dana Revitalisasi Sekolah Disalurkan Langsung ke Kepala Sekolah
KSP Tegaskan Program Revitalisasi Sekolah Dikelola Satuan Pendidikan, Bukan Pemda
Kepsek di Manggarai Barat Diterpa Isu Intervensi Proyek Revitalisasi, Wabup Yulianus Weng Beri Peringatan Tegas
HUT ke-81 RI di Lembor Berlangsung Sederhana, Duka Pascagempa Tak Patahkan Semangat Kemerdekaan
Keracunan MBG! Ratusan Murid dari 5 Sekolah di Karo Dilarikan Ke Rumah Sakit, Alami Gatal Mulut hingga Sesak Napas
Diduga Keracunan MBG, Ratusan Siswa SMA Negeri 1 Berastagi Dilarikan ke Rumah Sakit

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 12:01 WITA

Guru PAUD se-Kecamatan Cibal Barat dan Lelak Dibekali Strategi Kurikulum Berbasis Deep Learning

Sabtu, 19 September 2026 - 21:01 WITA

Terungkap 6 Kesenjangan Pendidikan Anak di Manggarai, Plan dan UNIKA Dorong Model PAUD–SD Terintegrasi

Sabtu, 19 September 2026 - 20:27 WITA

Cegah Korupsi, Dana Revitalisasi Sekolah Disalurkan Langsung ke Kepala Sekolah

Sabtu, 19 September 2026 - 20:05 WITA

KSP Tegaskan Program Revitalisasi Sekolah Dikelola Satuan Pendidikan, Bukan Pemda

Sabtu, 19 September 2026 - 15:46 WITA

Kepsek di Manggarai Barat Diterpa Isu Intervensi Proyek Revitalisasi, Wabup Yulianus Weng Beri Peringatan Tegas

Berita Terbaru

error: Content is protected !!