Flobamor.com, Labuan Bajo – Tragedi maut yang merenggut nyawa dua wisatawan asal Austria di objek wisata Air Terjun Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai membuka tabir persoalan lama yang selama ini luput dari perhatian.
Di balik robohnya jembatan gantung yang menjadi ikon destinasi tersebut, tersimpan sejumlah pertanyaan serius mengenai penggunaan anggaran, pengelolaan fasilitas wisata, hingga dugaan kelalaian yang berujung maut.
Fakta terbaru mengungkapkan bahwa pembangunan awal jembatan gantung tersebut pada tahun 2017 menelan anggaran Rp900 juta. Namun ironisnya, fasilitas yang dibangun dengan dana ratusan juta rupiah itu diduga tidak pernah mendapatkan perawatan memadai hingga akhirnya memakan korban jiwa.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid, mengakui besaran anggaran bangun jembatan tersebut sebesar Rp 900 juta. Hal itu ia sampaikan saat menjalani pemeriksaan di Polres Manggarai Barat, Selasa (2/6/2026).
“Yang tertera di dokumen itu kurang lebih sembilan ratusan juta,” ujar Petrus.
Pemeriksaan kadis Petrus Antonius Rasyid dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan atas tragedi jebolnya jembatan kayu di kawasan wisata Cunca Wulang pada Minggu (24/5/2016).
Dalam insiden tersebut, pasangan suami istri asal Austria berinisial J (54) dan A (56) terjatuh ke dasar jurang sedalam sekitar 10 meter dan meninggal dunia.
Kontraktor Misterius
Dalam pemeriksaan, penyidik Polres Manggarai Barat meminta klarifikasi terkait sejarah pembangunan dan pemeliharaan jembatan sejak 2017 hingga 2023.
Namun ketika ditanya mengenai perusahaan pelaksana proyek bernilai hampir Rp1 miliar itu, Petrus mengaku tidak mengetahuinya.
“Itu dilaksanakan oleh salah satu kontraktor yang saya tidak hafal. Saya tidak hafal pasti nomenklatur nama perusahaannya,” ujar Petrus.
Pernyataan tersebut memunculkan tanda tanya baru. Siapa sebenarnya kontraktor yang membangun jembatan tersebut? Bagaimana kualitas pekerjaan yang dihasilkan? Dan apakah selama hampir satu dekade ada evaluasi terhadap kondisi infrastruktur yang menjadi akses utama wisatawan?
Diketahui, proyek tersebut saat itu ditangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bernama Tarsi, yang kini sudah tidak lagi bertugas di Dinas Pariwisata.
Petrus sendiri baru menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata setelah dilantik pada 7 Mei 2026 atau sekitar satu bulan sebelum tragedi terjadi.
PAD Terus Dipungut, Fasilitas Dibiarkan Rapuh
Salah satu fokus penyelidikan kepolisian adalah pengelolaan pendapatan dari kawasan wisata Cunca Wulang.
Selama bertahun-tahun, wisatawan yang berkunjung dikenakan pungutan retribusi kebersihan sebesar Rp20 ribu untuk wisatawan mancanegara dan Rp10 ribu untuk wisatawan domestik.
Namun di tengah pemasukan yang terus mengalir, kondisi fasilitas wisata justru memprihatinkan.
Polisi menemukan fakta bahwa papan lantai jembatan yang patah sudah mengalami pelapukan parah.
Selain itu, sekitar 90 persen jaring pengaman di sisi jembatan telah hilang. Pada titik kejadian juga ditemukan lubang sepanjang sekitar 1,2 meter akibat patahnya papan kayu.
Temuan tersebut memperkuat dugaan adanya pembiaran terhadap fasilitas publik yang digunakan ribuan wisatawan setiap tahun.
Tidak Ada SOP, Tidak Ada Rambu Bahaya
Sementara itu, Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan awal menunjukkan lemahnya sistem keselamatan di lokasi wisata tersebut.
“Tidak terdapat sistem keselamatan wisata yang memadai,” ujar AKBP Christian.
Ia menjelaskan, penyidik tidak menemukan Standar Operasional Prosedur (SOP) tertulis terkait pemeriksaan rutin jembatan. Selain itu, tidak tersedia rambu-rambu peringatan bahaya maupun perlindungan asuransi bagi pengunjung.
Kondisi ini menjadi sorotan serius karena menyangkut tanggung jawab pengelola terhadap keselamatan wisatawan.
“Ahli Teknik Sipil Akan Dilibatkan
Untuk mengungkap penyebab pasti keruntuhan jembatan, kepolisian akan melibatkan ahli teknik sipil,” jelas AKBP Christian.
Menurutnya, tim ahli akan menilai apakah kerusakan yang terjadi murni disebabkan faktor usia dan alam, atau justru merupakan akibat dari kelalaian dalam pemeliharaan dan pengawasan.
Sebelum memeriksa Kepala Dinas Pariwisata, penyidik telah lebih dulu memeriksa lima saksi penting, termasuk Kepala Desa Cunca Wulang, petugas retribusi, dan pemandu wisata lokal.
Penyidik juga menyoroti belum adanya Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Desa dan Dinas Pariwisata terkait pengelolaan destinasi wisata tersebut.
Menanggapi hal itu, Petrus menjelaskan bahwa dasar pengelolaan selama ini mengacu pada Surat Keputusan (SK) Bupati tahun 2022 tentang penetapan pengelola destinasi wisata.
Banyak Pertanyaan Belum Terjawab
Tragedi Cunca Wulang kini bukan sekadar kasus kecelakaan wisata biasa. Sejumlah pertanyaan penting masih menunggu jawaban.
Siapa kontraktor yang mengerjakan proyek Rp900 juta tersebut? Berapa kali fasilitas itu diperiksa selama sembilan tahun terakhir? Kemana alokasi dana hasil pungutan wisata selama ini digunakan? Dan siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi jembatan yang diduga telah lama mengalami kerusakan?
Sementara itu, hingga Selasa (2/6/2026), jenazah kedua korban masih disemayamkan di RSUD Komodo, Labuan Bajo. Proses pemulangan ke Austria masih dikoordinasikan bersama pihak Kedutaan Besar Austria di Jakarta.
Penulis : Deni
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












