Flobamor.com — Tujuh hari berlalu pasca gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Namun, bagi warga Bea Muring, Desa Leong, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, masa-masa sulit itu belum juga berakhir.
Di tengah rumah-rumah yang rusak dan warga yang terpaksa bertahan di tenda darurat, bantuan yang diterima warga masih jauh dari kebutuhan mereka.
Bantuan yang datang pun harus dibagi kepada 293 keluarga terdampak. Dalam kondisi serba terbatas, warga hanya mendapatkan jatah beras hanya 1,5 kilogram per kepala keluarga (KK), sementara bantuan lainnya berupa mi instan, gula, ikan kaleng hingga kebutuhan bagi ibu hamil juga dibagikan secara terbatas.
Ketua BPD Desa Leong, Petrus Kasi Sayang, mengungkapkan bahwa bantuan beras yang diterima dari daerah telah disalurkan kepada 293 keluarga yang menjadi sasaran terdampak gempa. Bantuan tersebut diterima warga Desa Leong pada Sabtu (22/8/2026) siang.
“Bantuan beras dari daerah kemarin kami sudah bagi ke 293 sasaran. Kebagian 1,5 kilogram per KK sasaran gempa,” ungkap Petus melalui pesan tertulis yang diterima Redaksi Flobamor.com, Sabtu (22/8/2026) siang.
Selain beras, kata Petus, bantuan yang tersedia antara lain telur sebanyak 60 butir yang dibagikan kepada ibu hamil di Desa Leong, mentega enam saset kecil, ikan kaleng tiga kaleng, mi instan 10 bungkus, serta gula sebanyak dua kilogram.

Keterbatasan bantuan tersebut membuat pihak desa harus berupaya membaginya sesuai kebutuhan dan kondisi warga.
Mirisnya, sebagian bantuan juga terpaksa diserahkan ke rumah duka setelah adanya warga yang meninggal dunia akibat gempa di Dusun Rejo, Desa Leong.
“Mi 10 bungkus, gula dua kilogram. Kami terpaksa serah ke rumah duka karena ada satu yang meninggal akibat gempa di Dusun Rejo, Desa Leong,” jelas Petrus.

Tujuh Hari Menunggu, Bantuan Baru Datang
Kisah memilukan juga disampaikan Irwan, salah seorang warga penerima bantuan.
Ia mengaku harus menunggu selama tujuh hari setelah gempa sebelum akhirnya mendapatkan bantuan, pada Sabtu (22/8/2026) siang.
Ironisnya, bantuan beras yang diterima hanya 1,5 Kilogram untuk satu keluarga.
“Satu setengah kilogram beras yang diterima hanya sekali masak, langsung habis dalam sehari, yaitu pagi, siang dan malam” ungkap Irwan dengan nada prihatin.
Bagi warga yang kehilangan rumah dan harus bertahan hidup dalam kondisi darurat, jumlah tersebut tentu sangat terbatas. Mereka bukan hanya membutuhkan makanan untuk satu atau dua hari, tetapi bantuan berkelanjutan hingga kondisi kembali pulih.
293 Warga terancam Kehilangan Rumah, Tenda Darurat Jadi Tempat Bertahan
Kondisi warga Desa Leong semakin memprihatinkan karena sebanyak 293 keluarga terdampak gempa harus menghadapi kerusakan rumah dan kehilangan tempat tinggal yang layak. Sebagian warga terpaksa tidur di tenda-tenda darurat seadanya.
Malam hari yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat berubah menjadi perjuangan untuk bertahan. Di tengah keterbatasan tempat berlindung, warga masih dihantui kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.
Warga berharap bantuan yang disalurkan benar-benar layak dan mampu memenuhi kebutuhan mereka selama berada di lokasi pengungsian. Bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah kebutuhan pokok dan perlengkapan mendesak untuk menunjang kehidupan sehari-hari dan membantu mereka bertahan di tengah kondisi pascagempa.
“Jujur saja, kami sangat membutuhkan Beras, mie instan, telur, terpal, selimut, dan air minum,” keluh Irwan.
Menurutnya, terpal sangat dibutuhkan agar warga memiliki tempat berlindung yang lebih layak. Beras dan makanan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara selimut dan air minum menjadi kebutuhan penting bagi warga yang masih bertahan dalam kondisi darurat.
Penulis : Deni
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












