Flobamor.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dipicu oleh kebijakan pemerintah mulai dirasakan masyarakat di tingkat bawah. Dampaknya tidak hanya meningkatkan biaya transportasi, tetapi juga memicu lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Para pedagang di Pasar Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku semakin tertekan. Biaya operasional terus meningkat, sementara daya beli masyarakat justru menurun. Kondisi ini membuat keuntungan pedagang dan petani semakin tergerus.
Salah seorang pedagang, Geno Veve Gunur’gen (43), mengatakan kenaikan harga BBM telah memukul usaha kecil yang bergantung pada distribusi barang dari petani ke pasar.
“Sejak aturan pemerintah diterapkan dan harga BBM naik, hasil jualan kami tidak lagi mampu menutupi biaya operasional. Petani yang membawa sayuran ke pasar juga tidak memperoleh keuntungan yang layak karena biaya angkut meningkat tajam,” ujar Geno kepada Wartawan Flobamor.com Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, kenaikan ongkos transportasi memicu efek berantai terhadap harga berbagai komoditas, mulai dari cabai, tomat, sayuran, bawang, hingga minyak goreng. Di sisi lain, masyarakat kini lebih selektif berbelanja karena harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.
“Kami merugi di tengah harga yang terus naik. Petani juga kesulitan karena biaya kirim semakin mahal. Akibatnya pasokan barang berkurang, sementara pembeli semakin sepi,” katanya.
Geno berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat kecil, khususnya pedagang dan petani.
“Kami memohon pemerintah memperhatikan nasib masyarakat kecil. Setiap kebijakan yang tidak mempertimbangkan kondisi rakyat akan semakin menyulitkan kami. Jika harga BBM terus naik dan penagihan pajak semakin ketat, kami khawatir tidak mampu lagi menjaga pasokan dari petani,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lain yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Ia menilai penerapan Pergub yang diikuti penagihan pajak lebih ketat, ditambah kenaikan BBM, membuat beban usaha semakin berat.
“Sejak Pergub diberlakukan, penagihan pajak terasa lebih ketat. Ditambah harga BBM naik, otomatis harga sayur, cabai, tomat, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya ikut melonjak. Pasokan makin sulit, sementara pembeli terus berkurang,” tuturnya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang dianggap memberatkan masyarakat. Mereka meminta langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta melindungi keberlangsungan usaha pedagang kecil dan kesejahteraan petani.
“Kami berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi kebijakan yang saat ini memberatkan masyarakat kecil. Tolong pikirkan nasib pedagang dan petani. Kami ingin harga kebutuhan pokok kembali stabil, biaya angkut tidak semakin tinggi, dan distribusi hasil pertanian bisa berjalan lancar. Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, kami khawatir banyak pedagang dan petani yang tidak mampu lagi bertahan mencari nafkah,” keluh salah seorang pedagang.
Penulis : Bonefasius Jatang
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












