Flobamor.com – Sejarah baru tercipta bagi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas. Untuk pertama kalinya sejak organisasi ini berdiri 79 tahun silam, Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI resmi digelar di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) Senin (20/7/2026).
Pembukaan kongres yang berlangsung khidmat di Aula Assumpta Ruteng itu menjadi momen bersejarah, tidak hanya bagi PMKRI, tetapi juga bagi masyarakat Manggarai yang dipercaya menjadi tuan rumah agenda tertinggi organisasi mahasiswa Katolik tersebut.
Ratusan kader PMKRI dari seluruh Indonesia disambut dengan nuansa budaya Manggarai. Prosesi adat yang ditampilkan panitia bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai menjadi simbol penghormatan kepada para delegasi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada peserta dari berbagai daerah.
Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Manggarai sebagai tuan rumah Kongres Nasional PMKRI.
Ia mengajak seluruh kader PMKRI untuk terus memelihara semangat, optimisme, dan cita-cita besar dalam mengabdi bagi Gereja Katolik maupun bangsa Indonesia.
“Jangan berkecil hati. Kita mulai semuanya dari yang kecil dan sederhana, tidak apa-apa. Tetap ingat bahwa mimpi kita itu mimpi yang besar untuk Gereja Katolik dan untuk Indonesia. Jalani semua dengan lapang hati,” ujar Bupati Hery.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Manggarai memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kongres karena PMKRI merupakan salah satu organisasi kader Gereja Katolik yang memiliki kontribusi besar dalam melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa.
Selain itu, penyelenggaraan kongres di Ruteng diharapkan memberikan manfaat, baik bagi perkembangan organisasi maupun masyarakat setempat.
Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2024–2026, Susana Florika Marianti Kandaimu, mengapresiasi penyambutan yang sarat nilai budaya tersebut. Menurut kader asal Papua itu, budaya merupakan identitas dan akar kehidupan sebuah bangsa yang harus terus dijaga.
“Maknanya adalah merawat budaya merupakan akar segala bangsa. Untuk itu saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menjaga budaya di daerah masing-masing. Manggarai menjadi salah satu daerah yang sangat kaya akan budaya dan tradisinya. Budayaku Jati Diriku,” katanya.
Susana juga menegaskan bahwa PMKRI merupakan ruang kaderisasi yang sah, strategis, dan relevan dalam mencetak generasi muda yang berintegritas, berjiwa nasionalis, serta memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Sementara itu, Ketua PMKRI Cabang Ruteng Sanctus Agustinus, Margareta Kartika, menyebut penyelenggaraan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII sebagai momentum bersejarah bagi PMKRI Cabang Ruteng yang telah berusia 57 tahun.
Menurutnya, kepercayaan menjadi tuan rumah merupakan jawaban atas penantian panjang para kader, senior, dan alumni PMKRI di Manggarai. Ia berharap seluruh rangkaian persidangan berlangsung dalam suasana yang sehat, produktif, demokratis, dan melahirkan gagasan-gagasan visioner bagi masa depan organisasi.
Pembukaan kongres ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Manggarai sebagai simbol dimulainya seluruh rangkaian persidangan. Prosesi diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne PMKRI yang diikuti seluruh peserta.
Sebanyak 300 delegasi dari cabang-cabang PMKRI di seluruh Indonesia mengikuti kongres yang akan menentukan arah kepemimpinan serta kebijakan strategis organisasi untuk periode mendatang.
Turut hadir dalam acara pembukaan jajaran Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, perwakilan kepala daerah se-Daratan Flores, tokoh agama, tokoh masyarakat, alumni PMKRI, akademisi, serta para pelajar di Kabupaten Manggarai, menambah semarak perhelatan nasional yang menjadi catatan penting dalam sejarah 79 tahun perjalanan PMKRI.
Penulis : Bonefasius Jatang
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












