Flobamor.com- Penanganan dampak bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai Barat terus berlangsung. Tim Kementerian Sosial RI bersama Pemerintah Daerah, Dinas Sosial, pemerintah desa, pendamping sosial, Tagana, serta unsur masyarakat terus melakukan asesmen, pendataan kebutuhan, penyaluran bantuan, dan perluasan jangkauan pelayanan hingga ke desa-desa yang lokasinya relatif jauh.
Roki, Petugas Kementerian Sosial RI, menjelaskan bahwa penentuan lokasi Dapur Umum yang beroperasi di Desa Wae Mowol, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan peninjauan lapangan.

Sebelumnya, kata Roki, tim telah meninjau sejumlah desa di Kecamatan Lembor, termasuk Desa Wae Kanta.
“Pada tahap awal, dapur umum sempat direncanakan berada di Nderu, Desa Wae Kanta. Namun setelah pengecekan kesiapan lokasi, terdapat kendala teknis terkait ketersediaan air bersih, listrik, fasilitas sanitasi, serta keterbatasan ruang untuk mendukung produksi makanan dalam jumlah besar,” ujar Roki.
Oleh karena itu, lanjut Roki, titik operasional akhirnya ditempatkan di Dusun Beci, Desa Wae Mowol, yang dinilai secara teknis lebih siap mendukung kegiatan pengolahan makanan.
”Perlu kami sampaikan bahwa lokasi Dapur Umum tidak serta-merta menunjukkan bahwa bantuan hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang berada di sekitar dapur tersebut. Dapur Umum merupakan titik produksi dan pelayanan yang digunakan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terdampak berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan di lapangan,” tegasnya.
Dapur Umum Kementerian Sosial RI ini diperuntukkan bagi seluruh desa di Kecamatan Lembor yang terdampak bencana. Setiap warga yang terkena dampak gempa bebas memenuhi kebutuhan pangan di dapur umum tersebut tanpa terkecuali.

Pada tahap awal, kapasitas yang dipersiapkan sekitar 1.500 porsi per hari, yang pelaksanaannya terus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta kemampuan produksi di lapangan.
Kementerian Sosial menyiapkan bahan pangan dan kebutuhan dapur, sedangkan proses pelaksanaannya dilakukan secara kolaboratif bersama pendamping sosial, relawan, pemerintah setempat, dan masyarakat.
Kebutuhan bahan pangan akan terus dipenuhi secara bertahap berdasarkan jumlah penerima manfaat dan kebutuhan aktual di lapangan.
Sementara itu, Pendamping PKH sekaligus penanggung jawab dapur umum, Marcelinus Mersi Sambut, menjelaskan bahwa kebutuhan makanan warga terdampak terus menjadi perhatian utama di lapangan.
Ia menerangkan, dapur umum tersebut setiap hari menyiapkan makanan lengkap berupa nasi, sayur, dan lauk, mulai dari telur hingga ayam.
“Selama dua hari beroperasi sejak Minggu (23/8), menu yang disajikan secara rutin berupa nasi dengan telur, dilengkapi sayuran seperti kubis, wortel, labu, dan tomat,” Kata Marsel.
Menurutnya, penyediaan makanan ini dilakukan untuk memastikan warga terdampak gempa tetap mendapatkan asupan makanan yang layak dan bergizi di tengah kondisi pascabencana.
Pendamping PKH bersama pemerintah desa setempat bertanggung jawab menyiapkan menu makanan menggunakan bahan-bahan yang disiapkan oleh pihak Kementerian Sosial.
“Warga terdampak juga diajak untuk ikut memasak secara gotong royong, sebelum makanan dibagikan kepada seluruh keluarga yang terdampak bencana,” pintanya.
Dapur Mandiri Jadi Alternatif
Di luar pelayanan melalui dapur umum, bantuan dalam bentuk bahan pangan maupun logistik lainnya juga terus disalurkan melalui koordinasi dengan Pemerintah Daerah, Dinas Sosial, dan pemerintah desa agar dapat menjangkau masyarakat terdampak sesuai hasil pendataan.
Selain di Desa Wae Mowol, Kementerian Sosial juga telah mendukung Dapur Mandiri di Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling, yang melayani 538 warga terdampak.
Saat ini proses asesmen masih berjalan dan tim sedang memetakan desa-desa lain, terutama wilayah yang relatif jauh dan membutuhkan dukungan pangan.
”Pola penanganannya tidak dibuat sama untuk seluruh wilayah, tetapi disesuaikan dengan kondisi geografis, jumlah masyarakat terdampak, akses distribusi, kesiapan fasilitas, serta kebutuhan masing-masing lokasi,” jelas Roki.
Pihaknya juga menyatakan sangat terbuka terhadap informasi dari masyarakat, pemerintah desa, maupun pihak lainnya mengenai wilayah yang masih membutuhkan dukungan.
Penulis : Bonefasius Jatang
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












