Flobamor.com- Kepala Staf Presiden (KSP) Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa program revitalisasi sekolah bukan dikelola oleh pemerintah daerah (Pemda), melainkan satuan pendidikan. Qodari mengatakan, satuan pendidikan terdiri dari kepala sekolah, orang tua murid, hingga masyarakat sekitar.
“Program Revit dilaksanakan secara swakelola pada tingkat satuan pendidikan. Jadi tidak lagi melalui pemda, melainkan langsung dikelola oleh sekolah,” tegas Qodari dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Pekerjaan yang tersedia mencakup tenaga bangunan, mandor, pengawas proyek, penyedia logistik, hingga pelaku usaha mikro kecil, dan menengah (UMKM). Qodari mengeklaim, sejumlah warga telah merasakan langsung dampak program tersebut.
Saiful Anam (45), warga Poponcol Kidul, Karawang misalnya, kembali bekerja sebagai buruh setelah tujuh bulan menganggur melalui proyek pembangunan SDN Karawang Kulon III. Hal serupa dirasakan Junaidi Danggala yang terlibat dalam proyek revitalisasi SLB Negeri 2 Makassar, Sulawesi Selatan.
Selama hampir dua bulan bekerja bersama sekitar 30 pekerja lainnya, ia menerima upah Rp 150.000 per hari yang dibayarkan setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak. “Contoh ketiga, dirasakan oleh Waluyo, kepala tukang pada proyek SMKN 5 Kabupaten Tangerang, ia menyampaikan bahwa kehadiran pekerja menggerakkan warung nasi dan jajanan di sekitar sekolah. Dengan adanya pekerja ini, otomatis semua pekerja mau belanja di lingkungan sekitar. Beli nasi, jajan, pasti beli di sekitarnya,” ujar Qodari.
Data KSP menunjukkan, setiap proyek revitalisasi sekolah rata-rata melibatkan 22 pekerja lokal. Secara keseluruhan, program ini disebut telah menyerap 238.131 tenaga kerja serta menggerakkan sekitar 58.000 UMKM, mulai dari penyedia bahan bangunan, warung makan, transportasi, hingga percetakan.
Penulis : Deni
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












