Gubernur NTT Buka Dialog dengan PPPK Se-NTT, Tegaskan Tak Ingin Ada Pegawai Dirumahkan

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena berdialog bersama para pegawai PPPK dari seluruh NTT melalui pertemuan daring yang diikuti perwakilan dari 22 Kabupaten/kota, Kamis (5/3/2026) foto isth)

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena berdialog bersama para pegawai PPPK dari seluruh NTT melalui pertemuan daring yang diikuti perwakilan dari 22 Kabupaten/kota, Kamis (5/3/2026) foto isth)

Flobamor.com, Kupang Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena membuka ruang dialog terbuka bersama para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dari seluruh NTT melalui pertemuan daring yang diikuti perwakilan dari 22 kabupaten/kota, Kamis (5/3/2026).

Dalam dialog tersebut, Gubernur menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan nasib ribuan PPPK di NTT di tengah ancaman pembatasan belanja pegawai yang diatur dalam Undang‑Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

“Saya sengaja membuka dialog ini secara terbuka agar persoalan PPPK tidak dibicarakan secara tertutup. Semua pihak harus memahami situasi yang sedang dihadapi pemerintah daerah, terutama terkait implementasi aturan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah,” tegas Gubernur.

Ia mengatakan, transparansi penting dilakukan agar tidak muncul kebijakan yang tiba-tiba dan berpotensi merugikan para pegawai yang selama ini telah mengabdi dalam pelayanan publik.

BACA JUGA:  Diperiksa Kejati NTT, Advokat Fransisco Bessi Serahkan Bukti Dugaan Aliran Uang ke Oknum Jaksa

Dalam pertemuan tersebut, para PPPK menyampaikan berbagai aspirasi dan kegelisahan. Sejumlah peserta mengungkapkan kekhawatiran terkait wacana pengurangan jumlah PPPK akibat pembatasan belanja pegawai. Bahkan, sebagian di antaranya mengaku mengalami tekanan psikologis karena ketidakpastian masa depan pekerjaan mereka.

Tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang mengikuti dialog itu juga menegaskan bahwa keberadaan PPPK sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pelayanan masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga.

Salah satu pernyataan yang cukup menyentuh bahkan datang dari peserta dialog yang mengatakan bahwa mereka lebih memilih menerima pemotongan gaji daripada harus kehilangan pekerjaan. Hal ini menunjukkan betapa besar harapan mereka untuk tetap mengabdi dan bekerja bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.

BACA JUGA:  Diduga Korupsi Dana Desa, Kades Liang Sola Dilaporkan ke Kejari Manggarai Barat

“Bahkan ada yang menyampaikan kepada saya, mereka lebih memilih menerima pemotongan gaji daripada harus kehilangan pekerjaan. Ini menunjukkan betapa besar harapan mereka untuk tetap mengabdi bagi masyarakat NTT,” ungkapnya.

Saat ini jumlah PPPK di NTT tercatat sekitar 12.000 orang. Dalam waktu dekat, jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah sekitar 4.000 PPPK paruh waktu, sehingga totalnya bisa mencapai sekitar 17.000 orang.

Namun jika pembatasan belanja pegawai diberlakukan secara ketat sesuai regulasi yang ada, diperkirakan sekitar 9.000 PPPK berpotensi terdampak.

“Kita sedang berjuang agar itu tidak terjadi. Saya pribadi tidak ingin ada satu pun PPPK yang dirumahkan,” tegas Gubernur.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT saat ini sedang melakukan komunikasi intensif dengan berbagai kementerian di Jakarta guna mencari solusi terbaik.

BACA JUGA:  Bongkar Aliran Dana Buzzer, Sidang Perkara Suap Hakim Ungkap Strategi Terorganisir Para Terdakwa

Selain itu, Pemprov NTT juga berencana mengajak seluruh bupati dan wali kota di NTT untuk membawa data lengkap terkait kebutuhan riil PPPK di daerah masing-masing.

Data tersebut nantinya akan disampaikan kepada pemerintah pusat dan DPR RI agar kebijakan terkait pembatasan belanja pegawai dapat ditinjau kembali dengan mempertimbangkan kondisi daerah, khususnya wilayah kepulauan seperti NTT yang masih sangat membutuhkan tenaga pendidikan, kesehatan, dan tenaga teknis lainnya.

Di akhir dialog, Gubernur meminta seluruh PPPK tetap bekerja dengan penuh semangat dan profesional.

“Pemerintah tidak tinggal diam. Kita semua sedang berjuang bersama agar solusi terbaik bisa ditemukan dan tidak ada yang kehilangan pekerjaan,” pungkasnya.

Penulis: Tim Redaksi Flobamor.com

Berita Terkait

Kecelakaan Tunggal di Jalur Trans Flores! Sopir Diduga Mengantuk, Lima Penumpang Dilarikan ke Puskesmas Wae Nakeng
Breaking News: Jenderal Polisi Aktif Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Korupsi MBG
Bos Agen Travel Labuan Bajo Bebas dari Tahanan Usai Kembalikan Uang Wisatawan Asing Rp85,2 Juta
Bupati Gowa Husniah Talenrang Akhirnya Buka Suara soal Hak Angket DPRD : Jangan Bawa-bawa Ranah Pribadi
ART Asal Manggarai Timur Ditemukan Tewas di Perumahan Elite Makassar, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian
Kapolri Rotasi Besar-Besaran! 190 Kapolres/Kapolresta Se-Indonesia Berganti, Ini Daftar Lengkapnya
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Wakil Ketua DPR: Bukti Kerja Nyata dan Reformasi Berjalan
Kejagung Buka Penyelidikan Dugaan Korupsi Proyek CCTV Fiktif MBG, 41 Nama Masuk Radar Penyidik

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 19:23 WITA

Kecelakaan Tunggal di Jalur Trans Flores! Sopir Diduga Mengantuk, Lima Penumpang Dilarikan ke Puskesmas Wae Nakeng

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:54 WITA

Breaking News: Jenderal Polisi Aktif Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Korupsi MBG

Selasa, 30 Juni 2026 - 21:19 WITA

Bos Agen Travel Labuan Bajo Bebas dari Tahanan Usai Kembalikan Uang Wisatawan Asing Rp85,2 Juta

Minggu, 28 Juni 2026 - 23:42 WITA

Bupati Gowa Husniah Talenrang Akhirnya Buka Suara soal Hak Angket DPRD : Jangan Bawa-bawa Ranah Pribadi

Minggu, 28 Juni 2026 - 15:02 WITA

Kapolri Rotasi Besar-Besaran! 190 Kapolres/Kapolresta Se-Indonesia Berganti, Ini Daftar Lengkapnya

Berita Terbaru

error: Content is protected !!