RUTENG, Flobamor.com – Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., Theol., mengajak pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadikan organisasi mahasiswa sebagai motor perubahan yang mampu memperjuangkan aspirasi, membangun budaya kritis, dan menghadirkan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun masyarakat.
Rektor menegaskan, kepemimpinan mahasiswa tidak boleh berhenti pada jabatan dan penyelenggaraan kegiatan seremonial. Lebih dari itu, BEM harus mampu menjadi ruang perjuangan aspirasi, pengembangan gagasan, serta penggerak perubahan positif di lingkungan kampus.
Pesan tersebut disampaikan Rektor saat beraudiensi dengan Ketua BEM terpilih, Vickidolin Polin Karpus, dan Wakil Ketua BEM terpilih, Vinsensia Putri Baru, di Pendopo Lama Keuskupan Ruteng, Jumat (9/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas peran strategis BEM, rencana program kerja, keterbukaan dalam organisasi, serta pentingnya membangun kembali persatuan mahasiswa setelah proses demokrasi kampus.
Dalam arahannya, Rektor menekankan bahwa BEM harus menjalankan peran lebih luas daripada sekedar menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan. Organisasi ini diharapkan menjadi wadah pembelajaran kepemimpinan, penyalur aspirasi, sekaligus mitra strategis universitas dalam meningkatkan kualitas kehidupan akademik.
“Saya tidak mengharapkan BEM yang hanya pandai membuat kegiatan, tetapi BEM yang mampu menghasilkan perubahan nyata bagi mahasiswa dan masyarakat,” tegas Rektor Manfred.
Ia juga mengajak pengurus BEM membangun budaya kritik yang bertanggung jawab, memperkuat argumentasi, dan mengutamakan dialog dalam menyelesaikan perbedaan pendapat.
Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya menjadi kesempatan untuk menemukan solusi, bukan alasan untuk saling berhadapan.
Di tengah masa pemulihan pascagempa, Rektor turut mengajak mahasiswa memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial melalui kerja sama serta tindakan nyata bagi sesama.
Sementara itu, Ketua BEM terpilih, Vickidolin Polin Karpus, menyampaikan bahwa kepengurusan BEM merencanakan berbagai kegiatan akademik dan nonakademik untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa sekaligus mempererat hubungan antarmahasiswa.
Pada bidang akademik, BEM merancang lomba menulis esai, monolog, membaca puisi, pidato, dan ide kreatif. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung secara daring melalui pembuatan video.
Kegiatan nonakademik diarahkan untuk membangun keakraban, terutama di kalangan mahasiswa semester pertama yang masih beradaptasi dengan lingkungan kampus.
BEM juga merencanakan festival budaya untuk memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya daerah di tengah perkembangan zaman modern.
“Kami melihat masih ada mahasiswa yang belum memahami budaya daerahnya sendiri,” jelas Vickidolin.
Festival tersebut direncanakan melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk Manggarai, Jawa, Ende, Maluku, Papua, dan Manokwari.
Melalui festival ini, BEM ingin menciptakan ruang perjumpaan lintas budaya agar mahasiswa dapat saling mengenal, memahami, dan menghargai keberagaman.
BEM Buka Ruang bagi Mahasiswa yang Ingin Menyampaikan Keluhan
Tak hanya berfokus pada kegiatan, Vickidolin menegaskan bahwa BEM harus menjadi tempat bagi mahasiswa untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, baik dalam bidang akademik maupun sosial.
Ia mengajak mahasiswa agar tidak ragu menyampaikan masalah kepada ketua atau pengurus BEM sehingga dapat dibahas bersama untuk mencari solusi.
Mahasiswa juga dapat menyalurkan persoalan melalui struktur organisasi kampus, mulai dari komisaris, program studi, fakultas, hingga universitas.
“Jika mahasiswa mengalami kendala dalam perkuliahan atau memiliki masalah dengan dosen, mereka dapat menyampaikan persoalan tersebut kepada pengurus BEM agar kami bisa membantu mencari solusi,” ujarnya.
Komitmen tersebut diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus sekaligus memastikan aspirasi mahasiswa memperoleh perhatian yang semestinya.
Beda Pilihan Bukan Alasan untuk Terpecah
Setelah proses pemilihan BEM, Vickidolin menilai seluruh mahasiswa perlu kembali bersatu dan mengesampingkan perbedaan pilihan.
Baginya, demokrasi kampus bukan sekadar persaingan untuk mendapatkan jabatan, melainkan proses yang harus menghasilkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua pihak.
“Menurut saya, pemilihan ini bukan sekadar kontestasi. Ke depan, kami juga harus berkolaborasi dengan pihak yang sebelumnya berbeda pilihan,” ungkapnya.
Vickidolin berkomitmen membangun komunikasi dengan berbagai kelompok mahasiswa, menyatukan gagasan, dan menjalankan program yang bermanfaat bagi seluruh mahasiswa.
Ia juga menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaan organisasi maupun pelaksanaan program kerja agar BEM dapat menjalankan tanggung jawabnya secara terbuka.
Wakil Ketua BEM Ajak Mahasiswa, Terutama Perempuan, Berani Speak Up
Wakil Ketua BEM terpilih, Vinsensia Putri Baru, turut menyoroti pentingnya keberanian mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dan memperjuangkan persoalan yang mereka hadapi.
Ia mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan mahasiswa kepada perempuan untuk mengambil peran dalam kepemimpinan organisasi di tingkat universitas.
Putri berharap kehadirannya dapat mendorong lebih banyak mahasiswa, khususnya perempuan, agar berani berbicara dan tidak memendam persoalan yang seharusnya dapat dikomunikasikan.
“Saya berharap, dengan kehadiran saya sebagai Wakil BEM, perempuan-perempuan di Unika Ruteng semakin berani speak up atau menyampaikan keluhan mereka,” kata Putri.
Menurutnya, sebagian mahasiswa masih merasa malu atau khawatir ketika hendak menyampaikan masalah kepada pengurus. Karena itu, ia ingin membangun komunikasi yang lebih terbuka agar mahasiswa merasa nyaman untuk bercerita dan mencari jalan keluar bersama.
Selain mendukung Ketua BEM dalam menyusun strategi dan menjalankan program kerja, Putri ingin mendorong mahasiswa mengembangkan pola pikir kritis, berani mengemukakan gagasan, dan berpartisipasi aktif dalam perubahan di lingkungan kampus.
“Pesan saya untuk semua mahasiswa, pertama, kita harus berani maju dan berbicara. Kita harus berani speak up di depan umum tentang apa yang kita alami,” tegasnya.
Perubahan Unika Membutuhkan Keterlibatan Semua Mahasiswa
Pesan Rektor dan komitmen pengurus BEM terpilih menegaskan pentingnya membangun kehidupan kampus yang transparan, kritis, inklusif, dan kolaboratif.
BEM diharapkan tidak hanya menjadi penyelenggara kegiatan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang aspirasi, jembatan komunikasi, dan penggerak perubahan yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa.
Bagi Putri, kemajuan Unika Santu Paulus Ruteng tidak dapat hanya bergantung pada pimpinan universitas atau pengurus organisasi. Seluruh mahasiswa perlu mengambil bagian dalam proses tersebut.
“Saya mengajak seluruh mahasiswa untuk ikut mengambil bagian dalam perubahan agar Unika Ruteng terus berkembang pada tahun-tahun mendatang,” tutupnya.
Penulis : Penulis: Selvianus Hadun
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












