Flobamor.com– Polemik Turnamen Messah Cup III di Pulau Messah, Desa Pasir Putih, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kian memanas. Gol kontroversial GPSL Soknar yang memicu protes keras dari tim Prima Jaya kini mendapat penjelasan langsung dari wasit Ibrahim.
Ibrahim secara tegas mempertahankan keputusannya mengesahkan gol yang mengubah kedudukan menjadi skor 2-1 untuk keunggulan GPSL Soknar. Ia menilai, proses terciptanya gol tersebut tidak diawali pelanggaran yang mengharuskannya menghentikan pertandingan.
Namun, keputusan itu justru menjadi titik krusial yang memicu polemik dalam laga yang seharusnya berlangsung menjunjung tinggi sportivitas.
Saat dihubungi pada Minggu (25/10/2026), Ibrahim membeberkan kronologi insiden yang memicu polemik dari kubu Prima Jaya.
Menurut penjelasannya, kejadian bermula ketika gelandang GPSL Soknar melepaskan umpan terobosan ke area pertahanan Prima Jaya. Penyerang GPSL kemudian berlari mengejar bola hingga memasuki kotak penalti.
Di area itulah benturan fisik antara penyerang GPSL dan pemain bertahan Prima Jaya terjadi. Benturan tersebut membuat penyerang GPSL terjatuh, sementara permainan tetap berlanjut.
“Di area tersebut, terjadi benturan fisik antara penyerang GPSL dan pemain bertahan Prima Jaya. Benturan itu membuat penyerang GPSL terjatuh, sementara situasi pertandingan terus berlangsung,” jelas Ibrahim.
Drama berlanjut di depan gawang Prima Jaya. Penjaga gawang yang berusaha mengamankan bola yang menangkapnya, tetapi bola kemudian terlepas di tengah situasi kemelut.
Penyerang GPSL yang sebelumnya terjatuh kembali bangkit dan memanfaatkan bola yang lepas dari penguasaan kiper. Bola kemudian diteruskan kepada rekannya hingga berujung gol.
Momen inilah yang menjadi protes kubu Prima Jaya. Mereka mempersoalkan adanya kontak fisik yang dinilai mengganggu penjaga gawang ketika berusaha mengamankan bola.
Namun, Ibrahim memiliki penilaian berbeda.
Menurut dia, benturan antara penyerang GPSL dan pemain bertahan Prima Jaya masih berada dalam batas kewajaran permainan. Karena itu, ia tidak melihat adanya unsur pelanggaran yang mengharuskan meniup peluit menandakan pelanggaran.
“Bola yang terlepas dari tangkapan penjaga gawang masih dapat diperebutkan pemain lawan selama tidak terjadi pelanggaran,” ungkapnya.
“Atas dasar pertimbangan tersebut, Ibrahim tetap pada keputusannya, gol GPSL Soknar sah,” lanjutnya.
Meski demikian, Keputusan pengesahan gol itu menjadi salah satu pemicu perselisihan di lapangan. Protes kubu Prima Jaya kemudian berkembang menjadi polemik yang berujung pada penghentian pertandingan sebelum waktu normal berakhir.
Pihak Prima Jaya menyatakan menerima skor 1-2. Namun, mereka meminta pertandingan tetap dilanjutkan untuk menuntaskan sisa waktu normal sekitar 15–17 menit.
Persoalan tidak berhenti pada gol kontroversial tersebut. Prima Jaya juga mempersoalkan keputusan panitia yang kemudian mendiskualifikasi tim mereka dari turnamen.
Di sinilah polemik Messah Cup III semakin melebar. Sebab, keabsahan gol, penghentian pertandingan, dan keputusan diskualifikasi merupakan tiga persoalan yang saling berkaitan.
Untuk mengungkap fakta di balik polemik Messah Cup III, Redaksi Flobamor.com telah menyajikan tiga berita khusus yang mengulas duduk perkara dari sudut pandang masing-masing pihak. Mulai dari klarifikasi Ketua Panitia Messah Cup III, penjelasan wasit utama terkait gol kontroversial, hingga keberatan Pelatih Prima Jaya atas keputusan yang memicu polemik.
Penulis : Deni
Editor : Tim Redaksi Flobamor.com












