Kondisi terkini kerusakan jalan yang dikerjakan PT AKAS (foto/Redaksi flobamor.com)
Manggarai Barat, Flobamor.com— Proyek pembangunan Jalan Nasional Labuan Bajo–Ruteng yang menelan anggaran lebih dari Rp125 miliar lebih kembali menuai sorotan. Pasalnya, proyek yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2024 yang dikerjakan PT Anugerah Karya Agra Sentosa (PT AKAS) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT ini telah mengalami kerusakan parah hanya dua bulan setelah dinyatakan selesai dikerjakan.
Pantauan Flobamor.com pada Senin (12/5/2025) menemukan sejumlah kerusakan signifikan di berbagai titik jalan. Di antaranya, permukaan jalan yang mengelupas, drainase yang rusak dan runtuh, serta Tembok Penahan Tanah (TPT) yang mulai ambruk. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat Manggarai Barat, yang sebelumnya menaruh harapan besar pada proyek strategis nasional tersebut.
“Proyek ini baru dua bulan selesai, tapi sudah rusak berat di banyak titik. Aspalnya tipis, mudah terkelupas, dan tidak tahan beban kendaraan. Ini jelas-jelas proyek asal jadi,” ujar Ardi, salah satu warga Manggarai Barat.
Kekecewaan serupa disampaikan oleh Heri, warga lainnya yang juga merupakan mantan kontraktor. Ia menyoroti mutu pekerjaan drainase dan kualitas aspal serta badan jalan yang jauh dari standar kelayakan.
“Drainasenya rusak parah, bahkan ambruk. Di beberapa titik badan jalan hanya ditaburi kerikil, tanpa betonisasi yang layak, dan juga hampir sepanjang jalan mengalami keretakan dan terlihat tipis. Kami menduga kuat ada pengurangan volume pekerjaan dan tidak sesuai RAB,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun terjadi pergantian Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di tengah proses pengerjaan, mutu pekerjaan tak kunjung membaik. Bahkan setelah mendapat addendum waktu pengerjaan, kualitas jalan tetap mengecewakan.
Masyarakat menilai lemahnya pengawasan dari BPJN NTT menjadi salah satu penyebab utama buruknya hasil proyek ini. Sebagai proyek infrastruktur strategis yang seharusnya menunjang mobilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan pariwisata Labuan Bajo-Ruteng dan sekitarnya, hasil yang ditinggalkan justru memunculkan potensi kerugian negara dan kemarahan publik.
Desakan Audit dan Investigasi
Merespons kondisi tersebut, warga Manggarai Barat mendesak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur untuk segera turun tangan mengaudit proyek secara menyeluruh, termasuk melakukan investigasi terhadap PT AKAS selaku kontraktor pelaksana dan seluruh pihak terkait, mulai dari konsultan pengawas hingga PPK.
“Ini bukan hanya soal jalan rusak. Ini soal penyalahgunaan uang negara. Kejati harus tegas! Jangan tunggu masyarakat teriak dulu baru bertindak,” tegas Heri.
Dengan kondisi ini, masyarakat berharap penegak hukum tidak hanya melakukan audit teknis, tetapi juga membongkar kemungkinan praktik korupsi dalam proyek bernilai ratusan miliar rupiah tersebut.
Kejati NTT Janji Lakukan Penyelidikan
Menanggapi desakan masyarakat, Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, Zet Tadung Allo, melalui pesan singkat kepada Flobamor.com menyatakan akan melakukan penyelidikan pada proyek tersebut.
“Terima kasih atas informasinya, nanti kami lakukan penyelidikan,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, upaya redaksi untuk meminta tanggapan dari pihak PT AKAS belum membuahkan hasil. Pihak perusahaan enggan memberikan komentar meski telah dihubungi berulang kali.












