Gambar ilustrasi
Manggarai Timur, Flobamor.com – Praktik tak mendidik dan diduga melanggar etika dunia pendidikan terjadi di SDN Bea Lenda, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Sekolah SDN Bea Lenda, Tekla Ersi Saur, diduga menahan Surat Keterangan Lulus (SKL) milik seorang siswa kelas VI hanya karena siswa tersebut tidak mengikuti kegiatan piknik sekolah bersama.
Tindakan yang disebut-sebut sebagai balas dendam emosional terhadap siswa itu sontak menuai kritik keras dari orang tua murid dan publik yang mengetahui peristiwa ini.
Orangtua Murid: Arogansi Kepala Sekolah Tak Punya Nurani!
Peristiwa ini pertama kali dikeluhkan oleh YD, orang tua siswa yang SKL anaknya ditahan. Kepada Redaksi Flobamor.com, Jumat (20/6/2025), YD menyampaikan rasa kecewa dan marah atas sikap Kepala Sekolah yang dinilai tidak profesional dan melukai psikologis anak.
“Anak saya tidak ikut piknik karena memang dia tidak mau, dan saya sebagai orang tua menghormati keputusannya. Tapi masa hanya karena itu SKL-nya ditahan? Ini bentuk arogansi dan penyalahgunaan wewenang” tegas YD dengan nada geram.
Lebih lanjut, YD mengisahkan bahwa saat siswa lain menerima SKL pada Senin, 16 Juni 2025, anaknya justru pulang ke rumah dalam kondisi menangis karena satu-satunya yang tidak diberi SKL.
“Bayangkan, dia pulang menangis karena hanya dia yang tidak diberikan SKL. Psikologis anak-anak tidak dipikirkan sama sekali. Kalau ini berdampak pada mental anak saya, siapa yang bertanggung jawab?” tegas YD.
Kepsek Membantah, Tapi Janji Palsu Terungkap
Dikonfirmasi Flobamor.com pada Kamis (19/6/2025), Kepsek Tekla Ersi Saur membantah bahwa dirinya tidak bermaksud menahan SKL tersebut.
“Saya tidak bermaksud menahan SKL, hanya saja pada hari Selasa kami ada kegiatan piknik, jadi tidak ada pelayanan di sekolah,” kata Ersi berdalih.
Ia mengklaim bahwa pelayanan sekolah kembali dibuka pada Kamis (19/6/2025) dan berjanji akan mengantar SKL ke rumah siswa pada Jumat (20/6/2025).
Namun, hingga Jumat siang, janji tersebut tak kunjung ditepati. SKL yang dijanjikan masih belum diserahkan, memperkuat dugaan bahwa tindakan ini memang disengaja.
“Statemen yang disampaikan ibu kepala sekolah terbukti bohong. Sampai hari ini, SKL belum kami terima,” beber YD dengan nada kecewa.












